
MAULID merupakan kata yang akrab di telinga dan kerap dirayakan setiap memasuki bulan Rabiul Awal. Namun, memaknai ruh dan esensi maulid sebagai media memperingati kelahiran Rasulullah SAW sering kali gagal dipahami secara mendalam oleh umat, terutama generasi akhir zaman.
Hal tersebut disampaikan Kepala Madrasah Aliyah Negeri 1 (MAN 1) Pidie, Provinsi Aceh, Muhammad Thaifuri, di sela-sela peringatan Maulid Akbar yang dihadiri para murid, guru, dan warga sekolah pada Selasa (22/9). Melalui refleksi kelahiran Nabi Muhammad SAW ini, Thaifuri berharap dapat mengedukasi sekitar 900 siswa-siswi MAN 1 Pidie tentang arti perjuangan yang sesungguhnya.
“Ini menjadi titik awal hijrah dari satu ngarai kehinaan menuju lembah mulia, laksana menapak tilas perjuangan Rasulullah. Kita edukasi anak-anak tentang ruh berhijrah dalam arti luas, yaitu berangkat dari kemalasan menuju kesungguhan, serta meninggalkan kebodohan untuk menyeberang lautan ilmu pengetahuan,” ujar Muhammad Thaifuri kepada Media Indonesia.
Ia menambahkan bahwa momentum ini juga menjadi ajang bagi siswa untuk merangkak dari keterpurukan menuju kemenangan, mengubah kekikiran menjadi kedermawanan sosial, serta membuang kesombongan demi menggapai karakter akhlak mulia.
Tradisi Nasi Kulah dan Kepedulian Sosial
Peringatan Maulid di madrasah yang dikenal sebagai MAN Inovasi ini berlangsung penuh makna. Acara tidak hanya diisi dengan makan kenduri nasi kulah (nasi bungkus daun pisang), tetapi juga dirangkai dengan aksi sosial nyata.
Pihak sekolah menyalurkan santunan kepada puluhan siswa yatim yang hidup dalam keterbatasan ekonomi. Bantuan yang diberikan berupa bahan pokok seperti beras, telur, minyak goreng, dan kebutuhan lain.
“Dengan menyisihkan sedikit donasi di antara sesama siswa, ini menjadi pelajaran berharga untuk saling memberi dan mengasihi yang lemah. Sesungguhnya di antara mereka tidak ada hijab kasta sebagai makhluk sosial,” tutur Thaifuri.
Untuk melestarikan tradisi, setiap siswa menyumbangkan tiga bungkus nasi kulah lengkap dengan lauk-pauk seperti ikan, daging, dan sayuran. Dari total sekitar 2.500 bungkus nasi yang terkumpul, satu bagian digunakan untuk konsumsi pribadi siswa, sementara dua bagian lainnya disuguhkan bagi tamu undangan, termasuk pengurus OSIM Madrasah se-Kabupaten Pidie dan sekolah sekitar.
Pesan Birrul Walidain
Puncak acara kenduri maulid diisi dengan ceramah agama oleh Teungku Nuriadi, dai ternama di Aceh. Dalam tausiahnya, Teungku Nuriadi menekankan pentingnya sikap taat dan patuh kepada kedua orang tua (birrul walidain).
Ia mengingatkan bahwa orangtua tidak hanya melahirkan, tetapi juga membimbing anak-anaknya untuk menyembah Allah dan mencintai Rasulullah. Orangtua rela berkorban dan hidup susah demi memastikan masa depan serta karakter anak yang jujur dan penyayang.
“Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa, pelita di kegelapan kehidupan, dan lentera hati yang tegar dalam segala situasi serta siap menghadapi berbagai risiko demi anak-anaknya,” pungkas Teungku Nuriadi. (I-2)
