
HIDUP di perkotaan membuat otak terus menerima beragam rangsangan dalam waktu bersamaan yang dapat memengaruhi kemampuan otak dalam mengatur perhatian dan memori. Dalam publikasi Harvard Medical School terbaru, mengulas hubungan antara kehidupan perkotaan dan fungsi otak. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa lingkungan kota yang dipenuhi lalu lintas, suara kendaraan, lampu, serta kerumunan dapat membuat otak terus mengalihkan perhatian dari satu rangsangan ke rangsangan lainnya.
Memengaruhi Fokus
Salah satu penelitian yang dilakukan peneliti University of Michigan membandingkan orang yang berjalan di taman dengan mereka yang berjalan di jalanan kota yang ramai.
Setelah berjalan, peserta menjalani serangkaian tes psikologis. Hasilnya, peserta yang berjalan di jalanan kota mendapatkan skor lebih rendah dalam tes perhatian dan memori kerja dibandingkan mereka yang berjalan di taman.
Para peneliti menduga rangsangan yang terus muncul di lingkungan perkotaan membuat perhatian seseorang berpindah dengan cepat. Lalu lintas, suara sirene, lampu, dan kerumunan memang menarik perhatian, tetapi rangsangan tersebut hanya berlangsung singkat sehingga otak harus terus menyesuaikan fokusnya.
Alam Membantu Otak Beristirahat
Kabar baiknya, otak tidak selalu membutuhkan perubahan besar untuk mendapatkan jeda dari kepadatan kota. Harvard Medical School menyebut penelitian menunjukkan bahwa menghabiskan waktu di lingkungan yang lebih alami dapat membantu memulihkan proses mental yang terkuras akibat paparan rangsangan perkotaan.
Bahkan, jeda selama sekitar 20 menit di lingkungan yang lebih alami disebut dapat membantu proses pemulihan tersebut. Keberadaan ruang hijau juga dikaitkan dengan kemampuan seseorang untuk berkonsentrasi lebih baik.
Stres Kota Berkaitan dengan Otak
Peneliti Sara Lazar dari Massachusetts General Hospital juga menyoroti bagaimana kehidupan kota dapat berkaitan dengan stres. Menurut Lazar, berada di jalanan kota yang sibuk membuat otak perlu lebih waspada terhadap berbagai rangsangan di sekitar.
Kondisi tersebut tidak selalu buruk karena kewaspadaan dapat membantu seseorang merespons bahaya. Namun, paparan terus-menerus terhadap lingkungan yang penuh rangsangan dapat membuat otak bekerja lebih keras.
Karena itu, bagi masyarakat yang sulit menjauh dari kehidupan kota, Harvard Medical School menyebut aktivitas seperti menikmati alam, yoga, atau meditasi dapat menjadi pilihan untuk membantu mengurangi tekanan dan memberikan kesempatan bagi otak untuk beristirahat. (H-4)
