
UPAYA mempercepat transformasi kawasan industri menuju rendah karbon terus dilakukan melalui pemanfaatan energi bersih, pengolahan limbah menjadi energi, serta pengembangan hidrogen untuk kebutuhan industri dan transportasi.
Kerja sama tersebut diarahkan untuk mewujudkan konsep Net Zero Industrial Estate di Kawasan Industri Jababeka, Cikarang, Bekasi.
Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, mengatakan pengembangan energi hijau akan menjadi salah satu fokus utama dalam kerja sama tersebut.
“Memasuki 2027, kami fokus mengembangkan alternatif energi hijau lain, seperti hidrogen, biometana, hingga potensi panas bumi,” ujar Agung dalam seminar “Ketahanan Energi dan Keberlanjutan dengan Transisi Energi: Menuju Net Zero Industrial Estate dengan Energy Security” di Java Palace Hotel, Kota Jababeka, Cikarang, Bekasi belum lama ini.
Seminar tersebut diselenggarakan Jababeka Net Zero Industrial Cluster Community (NZICC) bersama Pertamina. NZICC merupakan komunitas perusahaan penyewa kawasan atau tenant di Jababeka yang memiliki komitmen terhadap pengurangan emisi dan pengembangan industri hijau.
Agung mengatakan sejumlah solusi energi rendah karbon akan dikembangkan, meliputi pemanfaatan gas pipa, biometana bersertifikat ISCC, pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), sistem penyimpanan energi baterai (Battery Energy Storage System/BESS), serta kredit karbon.
Direktur Utama Jababeka Infrastruktur Didik Purbadi mengatakan Kawasan Industri Jababeka sejak awal dikembangkan dengan konsep kawasan industri modern yang mengintegrasikan aspek ekonomi dan lingkungan.
“Lewat sinergi infrastruktur modern dan konsep eko-industri mandiri, Jababeka berhasil menciptakan efek berganda bagi lapangan kerja, UMKM, serta pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Didik.
Kawasan Industri Jababeka didirikan pada 1989 dan saat ini dihuni sekitar 2.000 perusahaan multinasional dari 36 negara. Kawasan tersebut dikelola dengan konsep eco-industrial estate yang menggabungkan kegiatan produksi dengan infrastruktur berkelanjutan.
Infrastruktur hijau yang telah dikembangkan antara lain pembangkit listrik berbasis gas yang beroperasi tanpa batu bara selama sekitar 35 tahun, instalasi pengolahan air limbah terpadu, serta fasilitas pengolahan air bersih yang memanfaatkan air permukaan.
Pengelola kawasan juga menerapkan tata tertib untuk memastikan perusahaan yang beroperasi memenuhi ketentuan lingkungan. Selain itu, tersedia dry port untuk meningkatkan efisiensi logistik dan mengurangi emisi dari aktivitas transportasi.
PLTS Atap Kurangi Emisi
Salah satu proyek energi bersih yang telah berjalan adalah pemasangan PLTS atap berkapasitas 230 kilowatt peak (kWp) di fasilitas pengolahan air kawasan. Proyek tersebut dikembangkan bersama Pertamina New & Renewable Energy.
Sejak beroperasi pada 2023, PLTS tersebut telah menghasilkan sekitar 858,21 megawatt jam (MWh) listrik dan mengurangi emisi karbon sekitar 734 ton CO2e.
Penggunaan PLTS atap juga mulai dilakukan oleh perusahaan-perusahaan di kawasan tersebut. Hingga September 2026, sebanyak 23 perusahaan telah memasang PLTS atap dengan total kapasitas 14,5 megawatt peak (MWp).
Agung mengatakan langkah tersebut menunjukkan bahwa komitmen perusahaan terhadap industri rendah karbon mulai diwujudkan melalui investasi nyata.
“Para tenant yang menyampaikan komitmen menjadi net zero industrial cluster juga telah menindaklanjutinya, dengan dukungan peran Jababeka Infrastruktur,” ujar Agung.
Ia mencontohkan perusahaan yang mengembangkan pemanfaatan biometana bersama PT Perusahaan Gas Negara (PGN), serta perusahaan lain yang meningkatkan kapasitas PLTS atap dari sekitar 1,2 MW menjadi lebih dari 2 MW.
Limbah Diolah Menjadi Energi
Selain energi terbarukan, pengembangan teknologi pengolahan limbah menjadi energi atau waste to energy juga tengah dijajaki. Limbah tersebut berpotensi dimanfaatkan sebagai sumber energi baru, termasuk bahan baku gas untuk pengembangan hidrogen.
Agung mengatakan Pertamina melalui Pertamina New & Renewable Energy dan PGN siap mendukung kebutuhan perusahaan di kawasan industri dalam menjalankan program dekarbonisasi.
“Kami yakin dengan dukungan Jababeka Infrastruktur, komitmen para tenant ini dapat terwujud dan dapat mendorong pemerintah menyiapkan regulasinya,” katanya.
Pengembangan hidrogen hijau juga diarahkan untuk mendukung konsep kota berbasis transportasi umum atau Transit Oriented Development (TOD City). Dengan demikian, penerapan energi rendah karbon tidak hanya menyasar kegiatan industri, tetapi juga sektor transportasi.
Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat pengembangan kawasan industri berkelanjutan, menjaga daya saing investasi, serta mengurangi dampak lingkungan. (Z-10)
