
MUSIM kemarau berkepanjangan yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Bangka, Provinsi Bangka Belitung (Babel), tidak hanya memicu krisis air bersih bagi warga. Sektor pertanian kini terpukul hebat setelah sumber air untuk irigasi persawahan mengering, yang mengakibatkan ratusan hektar tanaman padi dipastikan gagal panen.
Plt Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Bangka, Subhan, mengungkapkan bahwa dari total luas lahan tanam padi di Kabupaten Bangka yang mencapai 2.810 hektar, sebagian besar lahan yang sudah ditanam kini dalam kondisi puso.
“Dari luas itu, sudah ada ratusan hektar yang sudah ditanam, dan dipastikan gagal panen,” ujar Subhan pada Senin (21/9).
Menurut Subhan, sebaran tanaman padi yang mengalami gagal panen tersebut berada di beberapa titik utama, di antaranya Desa Kemuje, Rukem, Kota Kapur, dan Puding. Pihak dinas sebenarnya telah berupaya melakukan langkah mitigasi dengan mengerahkan bantuan peralatan ke lokasi terdampak.
“Kami sudah mengerahkan 9 mesin pompa air untuk membantu mengairi air ke persawahan,” jelasnya.
Namun, upaya pompanisasi tersebut menemui jalan buntu. Debit air pada sumber-sumber air permukaan maupun irigasi di sekitar lahan persawahan sudah habis menyusut akibat kemarau yang ekstrem.
“Memang sudah dibantu pompa air, tapi karena tidak ada sumber airnya, terpaksa gagal panen,” ungkap Subhan.
Guna menghindari kerugian yang lebih besar, Subhan menyebutkan bahwa saat ini para petani di beberapa area persawahan terdampak memilih untuk tidak melakukan penanaman kembali. Risiko kegagalan yang tinggi akibat ketiadaan pasokan air menjadi pertimbangan utama para petani.
“Untuk saat ini tidak ada petani kita yang menanam padi karena takut gagal panen, karena memang tidak ada sumber air,” imbuhnya.
Sebagai langkah alternatif, para petani di desa-desa tersebut kini hanya melakukan aktivitas pengolahan lahan secara terbatas. Mereka memilih menunggu hingga musim penghujan tiba sebelum kembali memulai masa tanam secara serentak. (H-2)
