
Pergerakan investor asing di pasar saham pertambangan Indonesia menunjukkan arah yang kontras sepanjang periode perdagangan 14-18 September 2026. Di saat sejumlah emiten tambang mineral menerima aliran dana segar, saham raksasa batu bara seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) justru mencatat aksi jual bersih (net sell).
Berdasarkan data Stockbit Sekuritas, tekanan jual asing pada BUMI mencapai Rp178,7 miliar dalam sepekan. Kondisi serupa terjadi pada ADRO yang mencatat penjualan bersih sebesar Rp169,7 miliar. Pada penutupan perdagangan 18 September 2026, harga saham BUMI bertengger di level Rp193 per saham setelah terkoreksi 8,9% dalam sepekan, sementara ADRO melemah tipis 1,1% ke level Rp2.640.
Arus Dana Beralih ke Tambang Mineral
Meski melepas saham batu bara termal, investor asing tidak sepenuhnya meninggalkan sektor pertambangan. Arus modal justru mengalir deras ke emiten tambang mineral. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) memimpin perolehan dengan net buy asing terbesar senilai Rp367,1 miliar.
Selain BRMS, beberapa emiten lain yang menjadi target buruan asing antara lain:
- PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebesar Rp184,8 miliar.
- PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) sebesar Rp108,4 miliar.
- PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) sebesar Rp104,1 miliar.
Pergeseran minat ini terjadi di tengah upaya agresif perusahaan tambang dalam memperluas portofolio bisnis di luar batu bara termal guna menyongsong era transisi energi.
Strategi Diversifikasi BUMI dan Proyeksi Analis
BUMI menjadi salah satu emiten yang paling aktif melakukan diversifikasi mineral melalui akuisisi sejumlah perusahaan Australia, yakni Loyal Metals Ltd., Jubilee Metals Limited, dan Wolfram Limited. Perseroan juga tengah mematangkan rencana akuisisi 45% saham PT Laman Mining Indonesia.
Langkah strategis ini mendapat respons positif dari MNC Sekuritas. Dalam risetnya, analis Raka Junico W dan Rudy Setiawan memberikan rekomendasi beli untuk BUMI dengan target harga Rp300 per saham. Mereka menilai, meski pasar masih menganggap BUMI sebagai produsen batu bara, kontribusi aset mineralnya mulai menunjukkan peningkatan signifikan.
Sektor mineral diproyeksikan mampu menyumbang 31,5% terhadap laba operasional BUMI dengan margin operasional mencapai 29,5%. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan margin operasional dari bisnis batu bara yang berada di level 8,8%.
Selain itu, BUMI diuntungkan oleh pembaruan skema royalti IUPK di tengah peningkatan kewajiban Domestic Market Obligation (DMO) menjadi 30%. Meski kuota RKAB industri 2025 disesuaikan menjadi sekitar 600 juta ton, pemegang IUPK seperti BUMI mendapatkan pengecualian sesuai skema yang berlaku.
Ekspansi ke Nikel, Emas, dan Ekosistem EV
Langkah diversifikasi juga diikuti oleh PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) yang mulai merambah sektor nikel dengan menguasai 9,62% saham PT Adhi Kartiko Pratama Tbk (NICE). Direktur ITMG, Mulianto, menyatakan perusahaan terus mengevaluasi peluang di mineral strategis yang mendukung elektrifikasi dan kebutuhan energi masa depan.
Sementara itu, PT Indika Energy Tbk (INDY) fokus mengembangkan proyek tambang emas Awak Mas di Sulawesi Selatan yang progres konstruksinya telah mencapai 60,63% hingga Juni 2026. INDY juga diketahui tengah membangun ekosistem kendaraan listrik (EV) terintegrasi.
Analis KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menilai diversifikasi ke emas dan mineral kritis merupakan langkah krusial untuk menyeimbangkan risiko pelemahan harga batu bara jangka panjang. Namun, analis Kiwoom Sekuritas, Abdul Azis Setyo Wibowo, mengingatkan bahwa keberhasilan strategi ini akan sangat bergantung pada kemampuan eksekusi dan kontribusi riil bisnis baru terhadap laba bersih perusahaan.
Beberapa emiten yang dinilai menarik untuk dicermati dalam perkembangan transisi energi ini meliputi ANTM, MDKA, INCO, ADRO, dan PTBA, terutama berdasarkan rekam jejak eksekusi bisnis non-batu bara mereka.
