
BERHARI-hari perasaan campur aduk antara bahagia, bersyukur, gelisah, sedih dan khawatir dirasakan Lutfi Dwi Adis Krisnawati, 23, warga Desa Mindahan, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara, ketika mendapatkan kabar kapal Virgo Transport 8 yang ditumpangi suaminya tenggelam di Perairan Masalembo, Laut Jawa.
Suaminya Abdul Kholeq, 25, berprofesi sebagai supir truk untuk mengangkut furnitur dari Jepara dengan tujuan Banjarmasin. Ia terdafar dalam manifes penumpang dan dikabarkan selamat ketika kapal Virgo Transport tenggelam. Namun, keponakannya Ilham Mukhamad Rojab, 21, hingga kini belum juga ditemukan.
“Awalnya tidak ada firasat atau kabar apa-apa, tiba-tiba kaget mendengar pemberitahuan dari tetangga kapal ditumpangi suami dan keponakan tenggelam, ” ujar Lutfi Dwi Adis Krisnawati yang tinggal di Desa Mindahan, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara, Kamis (17/9).
Kabar dari tetangga siang itu, lanjut Lutfi Dwi Adis membuatnya sedih. Tetapi setelah itu, kabar lain datang bahwa suaminya Abdul Kholeq selamat. Suaminya mengirimkan pesan melalui media sosial milik seorang nelayan asal Juwana Pati. Ia tidak dapat berkata-kata.
Setelah itu ia berupaya memastikan kondisi suami Abdul Kholeq dan keponakan Ilham Mukhamad Rojab melalui sambungan telepon. Dari keterangan yang ia dapat, sang suami masih menjalani perawatan di rumah sakit di Banjarmasin sedangkan keponakan belum ditemukan.
Ia merasa cemas, sedih, dan gelisah karena nasib keponakan yang ikut dalam perjalanan tersebut hingga saat ini belum dapat dipastikan.
“Kami masih menunggu kabar keponakan saya yang belum ada kepastian, saya berharap segera ditemukan dalam keadaan selamat dan baik-baik saja, ” tuturnya sembari mengusap air mata.
Menurut cerita suaminya, Abdul Kholeq, Luthfi mengatakan saat kapal berangkat dari Surabaya perjalanan berlangsung aman. Lalu bersama supit truk lainnya ketiganya tidur dalam satu ruangan di dalam kapal.
Suaminya Abdul Kholeq, terbangun sekitar pukul 1.00 WIB setelah mendengar teriakan seseorang yang menyebut kapal dalam kondisi miring. Suaminya segera membangun kan keponakan dan satu temannya.
Dalam kondisi panik, kata Luthfi, suaminya sempat mengambil tiga baju pelampung atas instruksi petugas kapal yakni untuk dipakai sendiri, keponakan serta temannya serta keluar dari ruangan.
“Suami saya berhasil keluar dari ruangan dalam kapal. Ilham dan Mashudi belum juga keluar malah membenarkan tali truknya dan ditunggu enggak keluar-keluar,” menirukan cerita suami.
Suami Abdul Kholeq semakin panik ketika hempasan gelombang menghantam kapal. Saat gelombang datang lagi, ia terpental ke laut dan berusaha mencari bantuan sambil berenang. Hingga ia melihat ada skoci dan dapat diraih dan bersama 11 penumpang lainnya, ia berhasil naik.
“Sembilan jam lamanya, ia terombang -ambing di atas skoci itu, hingga akhirnya datang kapal nelayan yang memberikan bantuan menyelamatkan mereka, ” tambahnya. (H-4)
