
ASEAN Economist UOB Enrico Tanuwidjaja menekankan pentingnya langkah pemerintah untuk memastikan investor yang telah masuk ke pasar domestik tetap bertahan dan melakukan reinvestasi. Langkah ini dinilai krusial guna menjaga aliran modal asing serta memperkuat nilai tukar Rupiah.
Enrico menjelaskan bahwa kebijakan investasi saat ini perlu diarahkan untuk menjaga modal yang sudah ada agar neraca pendapatan primer dapat mencatatkan surplus. Salah satu instrumen yang diusulkan adalah pemberian insentif yang tepat bagi para investor lama.
“Jadi semua kebijakan investasi perlu menjaga investasi mereka, supaya neraca primer surplus, seperti policy yang dapat memberikan insentif,” ujar Enrico dalam diskusi bertajuk “Reclaiming Global Trust: Indonesia’s Investment Agenda for a Volatile World” di Jakarta, Rabu (15/9).
Ia memaparkan data bahwa terdapat sekitar US$9 miliar yang kembali ke negara asal dalam bentuk pembayaran dan dividen hasil investasi di Indonesia. Menurutnya, jika kebijakan reinvestasi diterapkan secara efektif, nilai tersebut berpotensi menjadi aliran modal masuk kembali yang akan memperbaiki struktur neraca pendapatan primer nasional.
Kemampuan menarik kembali investasi dari pemain lama dianggap penting tidak hanya untuk keberlanjutan investasi, tetapi juga untuk memperkuat kepercayaan global (global trust) terhadap iklim bisnis di tanah air.
Senada dengan hal tersebut, Head of Corporate Banking UOB Indonesia Edwin Kadir menilai stimulus reinvestasi sangat diperlukan. Ia berpendapat bahwa investor membutuhkan keyakinan bahwa bisnis mereka di Indonesia masih memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang.
“Perlu adanya stimulus untuk reinvestasi karena sebagai investor mereka mau yakinkan pihak luar bahwa usaha di domestik ini akan tumbuh lagi, akan meyakinkan lagi,” kata Edwin.
Edwin menambahkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini tergolong kokoh dengan iklim investasi yang terus membaik. Dari sisi perbankan, UOB Indonesia mengaku mendapatkan ruang gerak yang memadai dari regulator untuk mengoptimalkan penyaluran kredit.
Pihaknya juga terus bersinergi dengan Kementerian Investasi/BKPM untuk memasarkan berbagai peluang investasi kepada para pemodal. Dengan kebijakan yang tepat, pemerintah diharapkan tidak hanya fokus menarik investor baru, tetapi juga memberikan kepastian bagi investor yang sudah ada untuk terus menanamkan modalnya di Indonesia. (Ant/E-3)
