
Tim SAR Gabungan melakukan penyesuaian luasan area pencarian terhadap kapal cepat beserta delapan penumpang yang dilaporkan hilang di perairan Selat Sunda, Pandeglang. Memasuki hari kedelapan operasi, area pencarian kini menyempit berdasarkan pemodelan dinamika arah dan kecepatan arus laut terkini.
Komandan Pangkalan TNI AL (Lanal) Banten, Letkol Laut (P) Wawan Subagyo Mardani, menjelaskan bahwa luasan area pencarian yang sebelumnya mencakup 4.586 nautical mile (NM) kini disesuaikan menjadi 3.962 NM. Langkah ini diambil berdasarkan pertimbangan teknis untuk meningkatkan efektivitas operasi.
“Penghitungan area sedikit lebih menyempit berdasarkan perhitungan permodelan SAR MAP oleh rekan-rekan Basarnas yang dikomparasi dengan data Pusat Hidro-Oseanografi TNI AL atau Pushidrosal,” ujar Wawan dalam konferensi pers di Posko Utama SAR Gabungan, Pantai Carita, Pandeglang, Selasa malam.
Pemodelan berbasis data hidros-oseanografi tersebut memberikan indikasi probabilitas tren pergerakan arus laut. Dengan data tersebut, tim dapat memfokuskan pencarian pada sektor yang dinilai paling akurat sebagai lokasi kemungkinan target hanyut.
Operasi Lintas Provinsi
Berdasarkan peta operasi Basarnas, pencarian hari kedelapan ini melibatkan 20 kapal utama SAR yang terbagi ke dalam enam sektor (A-F). Wilayah penyisiran mencakup perairan sekitar Gunung Anak Krakatau, melintasi Provinsi Banten, Lampung, hingga mencapai Bengkulu.
Wawan menambahkan bahwa karakteristik arus di perairan Selat Sunda, khususnya di sekitar Gunung Anak Krakatau, sangat dinamis. “Arus terus mengalami perubahan arah maupun kecepatan pada setiap jamnya sampai ke Samudera Hindia (Enggano sebelah barat daya),” jelasnya.
Kondisi Perairan dan Pemeriksaan Objek
Kepala Kantor SAR Banten, Al Amrad, mengungkapkan bahwa kondisi gelombang di area pencarian secara umum bervariasi antara 0,5 hingga 2,5 meter. Namun, di wilayah terdekat Gunung Anak Krakatau, kondisi terpantau cukup kondusif dengan ketinggian gelombang hanya 0,5-0,75 meter.
Situasi yang tenang di sekitar Gunung Anak Krakatau memungkinkan petugas menggunakan Sea Rider dari KN SAR Tetuka untuk menjangkau area Pulau Rakata dan Pulau Sertung lebih dekat. Penjangkauan ini dilakukan guna mengonfirmasi laporan mengenai dugaan keberadaan objek kapal cepat Arupadhatu 1.
Meski demikian, hasil pemeriksaan di lokasi tersebut masih nihil. “Kenapa kami nyatakan nihil, karena objek tersebut tidak nampak sama sekali. Target yang kita cari adalah speedboat dengan lambung warnanya putih termasuk yang warna deck-nya. Itu tidak ada nampak sama sekali,” pungkas Amrad.
